top of page

Found to Find

  • Dec 6, 2020
  • 3 min read


Shalom saudara yang kukasihi! Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut mengenai renungan ini, saya ingin membagikan sebuah pengalaman pertobatan saya kepada Kristus.


Pertobatan saya diawali dengan suatu hari pada saat saya masih kecil dimana saya sudah muak dengan keadaan dunia, dan lingkungan saya. Saya sedang berada dalam kamar sendirian, dan saya pun menangis karena saya tidak tahu harus bagaimana. Kepuasan sementara sungguh membuat saya eneg. Di situ, saya merasa bahwa saya sudah cukup hidup dalam dosa, dan butuh Tuhan. Memang latar belakang keluarga saya adalah Kristen, namun saat itu saya sendiri belum mengenal Tuhan.


Dengan keinginan untuk berubah, saya mulai rajin beribadah. Semakin hari, saya pun semakin ingin mengalami kasih Tuhan. Entah bagaimana caranya, namun jiwa saya haus untuk semakin mengenalNya. Puji Tuhan, Tuhan membuka jalan. Kakak saya pun mengajak saya untuk mengikuti sebuah komsel (komunitas rohani) yang dinamakan CG (Connect Group). Di komsel itu iman saya pun mulai bertumbuh. Saya bersyukur Tuhan telah menempatkan saya di tempat yang tepat dan dimuridkan oleh pemimpin rohani yang berjaga-jaga atas imanku. Sungguh pengalaman yang indah bersama Nya!


Dari pengalaman pertobatan saya, saya ingin membagikan sebuah renungan untuk saudara bagaimana kita bisa meresponi panggilan Tuhan untuk menyelamatkan jiwa lain. Dengan hal itu saya memberi judul renungan hari ini 'Found to Find' (Ditemukan untuk Menemukan).


Bagaimana kita bisa meresponi panggilan Tuhan untuk menyelamatkan jiwa lain?

1. Mengakui dosa dan kesalahanmu.

Pengakuan akan dosa adalah langkah pertama yang harus kita ambil. Mengapa? Karena kalau kita masih berpikir bahwa kita tidak butuh Tuhan, maka bagaimanakah Tuhan dalam bekerja dalam hidup kita? Akuilah bahwa sebaik apa kondisi kehidupan anda, kita semua butuh Tuhan karena hanya Dia-lah harapan kita yang sesungguhnya.

Firman Tuhan mengatakan pada Lukas 15:17 bahwa anak yang hilang pun menyadari keadaannya. Ia tahu bahwa ia sedang berada pada tempat yang salah. Maka setelah itu, ia pun kembali pada rumah bapanya.

Saudara, saya tidak tahu apa masa lalu anda, namun percayalah Tuhan tidak pernah sekalipun memandang dosa dan kesalahan anda! Mari kita akui dosa kita, dan biarkan Tuhan memulihkan hidup kita.


2. Janganlah diam dalam kesedihan, carilah komunitas rohani!

Saudara, janganlah kita terlarut dalam kesedihan dan kepahitan dalam mengakui keadaan kita. Namun justru biarkan pengakuan kita mendorong kita semua untuk menyadari bahwa Tuhan sanggup memulihkan keadaan anda.

Carilah komunitas rohani yang dapat menopang mu melewati kesedihanmu. Percayalah bahwa pemimpin rohani yang baik tidak akan pernah menjerumuskan mu ke dalam kesedihan. Jangan hadapi hidupmu sendiri! Firman Tuhan mengatakan pada Pengkhotbah 4:9-10 bahwa berdua lebih baik pada seorang diri. Firman ini tidak hanya membicarakan mengenai pasangan atau jodoh. Karena sebagai remaja atau anak kecil, tentunya kita belum siap untuk berpasangan. Namun dengan adanya komunitas rohani, mereka pun akan saling menopang dan membantu kita dalam kesusahan.


3. Renungkan Firman Tuhan setiap hari

Tentunya, selain untuk memiliki dukungan dari luar, kita sendiri harus memiliki fondasi atau dasar yang kuat untuk menghadapi hidup ini. Apakah dasar yang kuat itu? Satu-satunya dasar yang kuat dibanding segala hal yang ada adalah Tuhan kita! Firman Tuhan mengatakan pada Yeremia 17:7-8 bahwa yang membuat kita kuat dan teguh adalah dalam aliran air kehidupan itu yaitu Firman Tuhan. Badai apapun yang menerpa kita, jika kita memiliki hubungan dan iman yang kuat padaNya tidak akan membuat kita goyah, jatuh, bahkan tergeletak. Baca dan renungkan Firman Tuhan setiap hari agar kita hati kita pun semakin diisi dengan damai sejahtera yang datang daripadaNya.

4. Nantikan kemuliaanNya

Respon selanjutnya adalah untuk menantikan kemuliaanNya. Saya ingin memberi sebuah perumpamaan. Ada sebuah benih yang ditaburkan dalam tanah yang baik. Namun karena benih itu pun terlihat belum bertumbuh, petani tersebut pun akhirnya menyerah dan meninggalkan benih tersebut.

Perumpamaan ini menjelaskan bagaimana kita seharusnya tidak berespon saat Tuhan sudah memberikan kita kesempatan dalam menyelamatkan jiwa-jiwa. Benih tersebut adalah sebuah ujian untuk menguji ketaatan kita melalui waktu. Air yang digunakan untuk menghidupi benih tersebut adalah usaha, waktu, dan pengorbanan kita. Kita tahu bahwa benih itu pasti bertumbuh jika air akan selalu disiram secara berulang kali.

Pertanyaannya adalah, apakah kita mau untuk mengorbankan usaha, waktu, dan pengorbanan kita untuk orang lain? Apakah hati kita sungguh rindu untuk orang lain diselamatkan? Atau usaha yang kita lakukan hanyalah untuk meraih pujian dari orang lain?


Saudara, mari kita renungkan kembali tujuan kita melakukan segala usaha dalam pelayanan. Jangan sampai kita mencari kemuliaan diri sendiri, dan mencari muka. Biarkan segala hal yang kita lakukan dan rindukan adalah untuk kemuliaanNya! Nantikan kemuliaanNya dengan setia, taburkan ketaatanmu apapun kondisinya.

Comments


© Deeper In Love | Since 2020

bottom of page